Entry: TITIPAN, bukanlah PEMBERIAN Wednesday, May 05, 2010



Dari dulu sampei sekarang, kata-kata "anak adalah titipan TUHAN" lebih sering kita dengar ketimbang "anak adalah pemberian TUHAN", sama halnya dengan "harta adalah titipan Tuhan" dan bukannya "harta adalah pemberian TUHAN".

Ada yang pernah tergelitik gak buat nanya (nanya dalam hati, nanya ke orang lain, nanya ke mbah gugel) kenapa "titipan" dan bukannya "pemberian"?
Atau mungkin ada yang sudah menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut?

Kalau menurut aku seh kata "titipan" emang lebih tepat ketimbang kata "pemberihan", karena Tuhan punya kuasa buat nentuin kapan kita nerima "titipan" itu dan Tuhan juga punya kuasa memutuskan kapan ngambil "titipan" itu dari kita, tanpa konfirmasi ke kita apalagi diskusi dulu ma kita.
Harta yang kita pegang merupakan kepercayaan dari Tuhan agar kita kelola n kita distribusikan, karena dalam ayat suci di kitab suci manapun pasti mengatakan bahwa di dalam harta kita terselip juga hak orang lain yang berhak untuk menerima, dan hak itu kita salurkan dalam bentuk derma, bantuan sosial, zakat. Yang namanya juga titipan, so Tuhan pasti akan meminta pertanggung jawaban ke kita tentang penggunaan dan pengelolaan harta itu.

Sama halnya dengan anak, merupakan titipan yang kapan saja bisa TUHAN ambil kembali dan pastinya ada pertanggungjawaban karena seorang anak bukanlah pemberian yang bisa diperlakukan semau orang tua seperti mereka memperlakukan sesuatu yang dimiliki. Anak-anak bukan diberikan kepada orang tua tetapi dititipkan untuk pebesarkan dan dipelihara dengan sayang dan cinta. Bukan disia-siakan karena merasa tidak diinginkan bukan juga diperbudak seperti halnya mesin yang ada surat kepemilikan.

Percaya sih kalau semua orang tua menyayangi dan mencintai anak-anak mereka dengan cara yang berbeda-beda. Sebagian menganggap kedisiplinan yang otoriter adalah demi kebaikan dan masa depan anaknya, sebagian juga dengan kucuran uang yang tak ada keringnya agak anak mereka bisa bersenang-senang dan tak pernah kekurangan, ada juga yang mendidik anak-anak mereka dengan keterbukaan yang santai tetapi saling menghormati.
Hampir semua orang tua di dunia ini yang menginginkan anak-anak mereka bahagia tetapi sangat jarang sekali yang menanyakan "apakah kau bahagia anakku?"
Hampir semua orang tua di dunia juga merancang masa depan bahkan menyiapkan semua kebutuhan kebahagiaan anak-anak mereka, tetapi hanya segelintir orang tua yang menanyakan "anakku, apa yang membuatmu bahagia?"

Yaaaa...... Pasti banyak yang berkomentar "loe bisa bilang kek gitu karena loe belon ngerasain gimana susahnya ngedidik anak" yaaaa......

Pastinya aku jawab IYA karena memang aku belum punya anak gimana bisa ngerasa susah senangnya ngedidik anak, tetapi alangkah baiknya jika orang tua sejenak saja berhenti berbicara dan mendengarkan sedikit saja suara anak-anak mereka.

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments